Cara Mengatasi Ruam Popok karena Diare pada Bayi

Diare pada bayi yang terus-menerus dibiarkan bukan hanya membuat si Kecil merasa tidak nyaman, namun juga berpotensi untuk menyebabkan ruam popok. Oleh sebab itu, orangtua harus dapat mengenali ciri-ciri bayi diare serta makanan untuk bayi diare. Apabila tanda diare pada bayi diabaikan, justru akan membuatnya bertambah parah dan menimbulkan ruam di kulit bagian popok. Simak cara mengatasi ruam popok karena diare selengkapnya di sini.

Apa itu Diare pada Bayi?

Diare pada bayi dan anak di bawah 2 tahun adalah kondisi buang air besar dengan konsistensi cair lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa disertai darah dan/atau lendir.  Kondisi ini seringkali disebabkan oleh Rotavirus. Diare pada bayi dapat terjadi akut, yaitu sembuh dalam waktu kurang dari 14 hari, atau kronik bila berlangsung lebih dari 14 hari (1)

Tanda Diare Pada Bayi

Tanda diare pada bayi ternyata bukan hanya bisa dilihat dari kondisi tinjanya saja. Kenali juga berbagai ciri-ciri bayi diare lainnya seperti (1):

  1. Tinja bercampur dengan atau darah atau lendir.
  2. Diare dapat disertai dengan demam dan muntah.
  3. Diare juga dapat memicu dehidrasi (1). Dehidrasi bisa menyebabkan kematian pada bayi (1).

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui apakah si Kecil mengalami dehidrasi. Ciri bayi terkena diare yang disertai dehidrasi dapat dilihat dari tampilan umum, apakah si Kecil (2,3):

  • Terlihat lemas dan mata tampak cekung.
  • Memiliki kondisi bibir dan mulut kering.
  • Kulit tampak kering dan tidak kenyal.
  • Serta tidak ada air mata. 

Diare dan Ruam Popok

Diare pada bayi bukan hanya mengganggu pencernaannya saja, tetapi juga bisa menyebabkan masalah kulit, yaitu ruam popok pada si Kecil. Terjadinya diare menyebabkan si Kecil buang air besar berkali-kali. Kondisi ini dapat menyebabkan kulit pantat mengalami iritasi akibat kontak dengan bahan popok atau dengan urin atau tinja (4).

Singkatnya, ruam popok karena diare terjadi karena area pantat dan lipat paha merupakan area yang lembab (4). Oleh karena itu, penanganan diare pada bayi dan ruam popok meliputi perawatan dari luar dan dalam, seperti menjaga makanannya, memberikan obat dan merawat kulit yang terkena ruam (3,4,5). Baca informasi lebih lanjut di bawah ini.

Makanan untuk Bayi Diare

Makanan untuk bayi diare perlu diperhatikan agar tidak membuat diare semakin parah. Diare pada bayi dapat ditangani di rumah jika terjadi tanpa dehidrasi, dengan pola sebagai berikut:

  • MPASI. Pada si Kecil yang mengalami diare tanpa dehidrasi, teruskan pemberian ASI dan susu formula, serta tidak perlu membatasi atau mengganti makanan (3). MPASI diberikan seperti biasa pada bayi berusia 6 bulan atau lebih (6).
  • Oralit. Berikan oralit untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare 5-10 mL setelah bayi dan anak buang air besar cair. Anak harus diberikan oralit meskipun mengalami muntah dan diberikan secara perlahan. Puasa tidak disarankan karena akan memperpanjang durasi diare. Selain itu, berikan tablet zink selama 10 hari berturut-turut (3).
  • Obat-obatan. Bayi dan anak tidak perlu diberikan obat antidiare, namun dapat diberikan obat antimuntah sesuai arahan dokter. Pemberian antibiotik hanya dilakukan atas saran dokter (2). Apabila curiga mengalami intoleransi laktosa, segera konsultasikan pada dokter untuk pengobatan dan pengaturan pemberian susu (3).

Cara Mengatasi Ruam Popok Karena Diare

Mengatasi ruam popok karena diare bukan hanya harus fokus pada kulit bayi namun juga membutuhkan perhatian khusus pada penanganan diare. Meskipun ruam ini tidak mengancam keselamatan jiwa, namun tetap dapat mengganggu bayi dan anak sehingga menyebabkan mereka menjadi rewel. Apabila tidak segera ditangani, misalnya dengan mengoleskan salep ruam bayi, maka ruam dapat mengalami infeksi dan luka, sehingga bayi tidak akan nyaman saat BAB (4). Di bawah ini adalah beberapa cara untuk mengatasi ruam popok karena diare pada si Kecil, yaitu:

  1. Menjaga kulit area popok bersih dan kering. Yang pertama, pastikan area popok kering di udara terbuka selama mungkin. Setelah mengganti popok bayi, pastikan area pantat dan lipatan paha sudah kering sebelum popok dipakaikan (5).
  2. Rajin mengganti popok agar tetap bersih. Kemudian, segera ganti popok yang kotor untuk menjaga agar area popok tetap bersih. Popok sekali pakai lebih direkomendasikan terutama bila si Kecil sedang mengalami ruam popok (5).
  3. Menggunakan salep ruam bayi karena diare. Sebelum memakaikan popok, pakaikan salep pada area popok untuk melindungi kulit dari area popok (5). salep yang digunakan adalah krim yang mengandung Dekspanthenol (provitamin B5) (7). Kandungan Dekspanthenol berguna sebagai (7):
    • Moisturizer yang dapat menjaga kulit tetap lembab,
    • Pelindung kulit si Kecil dari kerusakan,
    • Serta membantu regenerasi kulit dan menstabilisasi lapisan pertahanan kulit.

Kapan Harus ke Dokter?

Diare pada bayi dan ruam popok pada bayi umumnya dapat ditangani di rumah, namun terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan bayi agar dibawa ke dokter:

  • Terdapat tanda dehidrasi pada anak yang mengalami diare (3),
  • Ruam popok tampak kemerahan dan tidak membaik setelah 2-3 hari (5),
  • Muncul luka bernanah atau ruam dengan bintik kemerahan (5),
  • Serta apabila si Kecil mengalami demam dan nyeri hebat (5)

Demikian informasi ciri-ciri bayi diare serta cara mengatasi ruam popok karena diare. Kenali berbagai tanda diare pada bayi di atas sedini mungkin agar langkah pencegahan bisa dilakukan lebih cepat. Ingatlah untuk tetap menjaga makanan untuk bayi yang terkena diare, sering mengganti popok serta memberikan salep ruam popok untuk merawat kulitnya. Salep ruam bayi karena diare yang mengandung Dekspanthenol (Pro Vitamin B5) dapat dioleskan untuk meningkatkan lapisan pertahanan kulit dan perlindungan dari risiko ruam popok.

CH-20220816-30

Artikel ini ditulis oleh:
dr. Ruth Katrin Goldina

Artikel ini ditinjau oleh:
dr. Riana Nirmala Wijaya – Medical Affairs Bayer Consumer Health Indonesia

Referensi:

  1. Hasibuan B, Nasution F, Guntur G. Infeksi Rotavirus pada Anak Usia di bawah Dua Tahun. Sari Pediatr. 2016;13(3):165. 

  2. Guarino A, Vecchio A Lo, Dias JA, Berkley JA, Boey C, Bruzzese D, et al. Universal Recommendations for the Management of Acute Diarrhea in Nonmalnourished Children. J Pediatr Gastroenterol Nutr [Internet]. 2018 Nov 11 [cited 2022 Jul 14];67(5):586. Available from: /pmc/articles/PMC7116696/.

  3. Hegar B. IDAI | Bagaimana Menangani Diare pada Anak [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014 [cited 2022 Jul 14]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-menangani-diare-pada-anak.

  4. Darmawan AC, Muktiari D. IDAI | Seputar Ruam Popok pada Anak [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2016 [cited 2022 Apr 5]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/seputar-ruam-popok-pada-anak.

  5. Puspitasari HA. IDAI | 5 Langkah Mengatasi Ruam Popok pada Bayi [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2017 [cited 2022 Jul 14]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/5-langkah-mengatasi-ruam-popok-pada-bayi.

  6. Ninditya Lina, Fadhila SR. IDAI | Memberi Makan Pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? [Internet]. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2016 [cited 2022 Aug 11]. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana.

  7. Sznurkowska DK, Liberek DA, Cieloch KB, Czernicka O, Bony DR de, Kurka DP, et al. IRRITANT DIAPER DERMATITIS SUPPLEMENT PART 2: EVALUATION OF A NEW COSMETIC TOPICAL FORMULATION IN THE MANAGEMENT OF IRRITANT DIAPER DERMATITIS IN INFANTS - Selfcare Journal. SelfCare J [Internet]. 2015; Available from: https://selfcarejournal.com/article/irritant-diaper-dermatitis-supplement-part-2-evaluation-of-a-new-cosmetic-topical-formulation-in-the-management-of-irritant-diaper-dermatitis-in-infants/.

bentuk garis merah muda dan abu-abu melengkung ke atas Bepanthen