Bruntusan Pada Bayi: Penyebab, Jenis dan Cara Mengatasinya

Bruntusan adalah bagian kulit yang memerah dan biasanya terdapat benjolan-benjolan kecil (1), yang wajar terjadi karena jenis kulit bayi yang lebih tipis dan sensitif (2). Meski biasanya bruntusan pada si Kecil terjadi sejak  ia menginjak usia 1 bulan (2), namun hal ini dapat berlangsung hingga usia 18 bulan (3). Walaupun ini hal yang lumrah, namun bagi orangtua bruntusan pada bayi tetap menjadi momok tersendiri.

Agar tidak salah kaprah, info di bawah ini akan menjelaskan tentang bruntusan pada bayi, penyebab, jenis serta cara terbaik untuk mengatasi dan pencegahan yang dapat dilakukan di rumah.

Cara membedakan bruntusan pada bayi dengan alergi dan eksim

  • Bruntusan. pada bayi merupakan kumpulan benjolan kecil, lembab, merah ini terlihat mirip dengan jerawat dan sering muncul di lengan, kaki, dada bagian atas dan kulit area popok bayi (1,4).
  • Alergi. Jika si kecil memiliki alergi karena makanan atau lingkungan di sekitarnya, ia akan mengalami bruntusan namun disertai bengkak pada bibir atau wajah, batuk, diare ataupun sesak napas (6).
  • Eksim atau Eczema. Eksim merupakan kondisi kulit ruam berwarna merah yang bisa terasa gatal bahkan sakit. Pemicunya dapat disebabkan oleh faktor dari luar seperti bulu hewan, kutu kasur, atau penggunaan cairan pembersih seperti deterjen dan pel lantai (4). Ciri-cirinya adalah kulit kering, bersisik, merah serta gatal (4).

Penyebab bruntusan pada bayi

Penyebab bruntusan pada bayi pada umumnya adalah karena kulitnya yang sensitif dan masih sangat tipis (2). Meski begitu, ada faktor lain yang mengakibatkan si Kecil mengalami bruntus, yaitu:

  • Hormon. Hormon ibu ketika sedang mengandung memiliki peran terhadap bruntusan pada bayi. Saat tanggal kelahiran si Kecil semakin mendekat, hormon ibu akan turun melalui plasenta dan masuk ke tubuh bayi. Hormon ini masih akan tersisa pada tubuhnya terutama di usia 1-4 minggu setelah kelahirannya (2).
  • Penyumbatan pori-pori.Paparan cuaca yang panas atau suhu lembab dapat membuat bayi berkeringat. Cairan keringat akan terperangkap di bawah kulit karena pori-pori tersumbat. Bruntusan ini biasanya muncul dengan tipe bruntus yang kecil-kecil, sedikit kemerahan dan berisi cairan di sekitar area leher, bahu, dada, ketiak, serta lipatan siku dan paha (4).

Jenis bruntusan pada bayi

  1. Jerawat Bayi
    Lebih dari sepertiga bayi baru lahir akan memiliki jerawat bayi atau yang sering disebut dengan baby acne (2). Jika Ibu menemukan si Kecil memiliki jerawat bayi, jangan menggosok ataupun menekan kulitnya agar jerawat bayi tidak bertambah parah (4).
  2. Milia
    Adanya milia ditandai dengan benjolan kecil berwarna putih di sekitar hidung, dagu, lengan, kaki ataupun pipi bayi. Biasanya, milia terlihat mirip dengan jerawat (4,5). Berdasarkan tingkat keparahannya, milia memiliki 4 kategori yang berbeda, yaitu (5):
  • Miliaria crystallina. Miliaria jenis ini terjadi ketika pori-pori kulit bagian atas tersumbat oleh keringat. Miliaria crystallina ditandai dengan benjolan bening berisi cairan yang mudah pecah namun tidak disertai radang.
  • Miliaria rubra. Kondisi ini juga disebabkan oleh tersumbatnya kulit karena keringat, yang menyebabkan gatal dan kemerahan di sekitar pori-pori keringat dan menyebabkan iritasi pada bayi, peradangan dan bruntusan yang terasa gatal.
  • Miliaria pustulosa. Bruntusan pada milia pustulosa biasanya disebabkan oleh miliaria rubra namun dengan peradangan yang lebih parah, kadang-kadang berisi nanah atau darah.
  • Miliaria profunda. Milia yang satu ini merupakan jenis bruntus pada bayi yang paling parah dan juga terasa menyakitkan.

Cara mengatasi bruntusan pada bayi

  • Jangan memencet atau menggosok bruntus (4).
  • Bersihkan area bruntusan pada bayi dan biarkan kering dengan sendirinya (4).
  • Potong pendek kuku bayi agar ia tidak melukai kulitnya saat tidak sengaja menggaruk (3).
  • Hindari obat jerawat atau produk perawatan kulit lainnya yang ditujukan untuk orang dewasa (4).
  • Gunakan salep kaya pelembab untuk kulit bayi yang dapat melindungi kulitnya dari penyebab iritasi sehingga bisa membantu meredakan bruntusan (7).

Cara mencegah bruntusan pada bayi (6)

  • Pastikan kulitnya tetap bersih dan kering
  • Sering mengganti popoknya secara berkala
  • Kenakan bayi pakaian yang menyerap keringat seperti katun
  • Tidak membiarkan orang lain yang memiliki gejala penyakit menyentuh si Kecil
  • Gunakan shampo dan sabun yang dibuat khusus untuk kulit bayi sensitif

Ada baiknya untuk orangtua selalu menyediakan salep kaya pelembab di rumah, agar dapat selalu melindungi kulit bayi dari penyebab iritasi dan bruntusan.

CH-20211213-09

Artikel ini ditinjau oleh:
Tim Konsultan Medis Medical Advisor Bayer Consumer Health Indonesia

Referensi:

  1. The Royal Children’s Hospital General Medicine. Rashes. The Royal Children’s Hospital Melbourne. Diakses pada 6 Desember 2021 dari https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Rashes/ 

  2. Dan Brennan. Your Newborn’s Skin and Rashes. Web MD. Diakses pada 6 Desember 2021 dari https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-skin-rashes#1 

  3. Medline Plus Team. Rash: Child Under 2 years. Medline Plus. Diakses pada 22 November 2021 dari https://medlineplus.gov/ency/article/003259.htm 

  4. Rena Goldman. Is It Baby Acne or Rash? Healthline. Diakses pada 22 November 2021 dari https://www.healthline.com/health/childrens-health/baby-acne-or-rash 

  5. Sally Robertson. Miliaria Types. News Medical Net. Diakses pada 23 November 2021 dari https://www.news-medical.net/health/Miliaria-Types.aspx 

  6. Kristeen Cherney. What Do Skin Allergies in Children Look Like? Healthline. Diakses pada 5 Desember 2021 dari https://www.healthline.com/health/pictures-skin-allergies-children#skin-reaction 

  7. Erwan Peltier, dkk. New Insights in the Skin Protective Activity of a Dexpanthenol Containing Formula (BEPANTHEN®) in a Diaper Rash-Like Model. Scientific Research. Diakses pada 23 November 2021 dari https://www.scirp.org/journal/paperinformation.aspx?paperid=100649 

bentuk garis merah muda dan abu-abu melengkung ke atas Bepanthen